Memasak Kebenaran: Antara Gulai Taboh, Juadah dan Jemari Digital Kita
Pernahkah Anda memperhatikan Ibu atau Istri saat sedang menyiapkan Gulai Taboh di dapur?.
Ada ketelitian yang luar biasa di sana. Santan harus diperas dari kelapa pilihan, ikan atau rebung harus segar, dan bumbu-bumbu seperti kunyit serta lengkuas harus ditumbuk halus. Jika santannya pecah karena apinya terlalu besar atau ada bumbu yang lupa dimasukkan, rasanya akan hambar, bahkan bisa merusak suasana makan sekeluarga.
Begitu juga saat kita menyajikan Juadah atau kue-kue tradisional di atas nampan saat acara adat. Semua harus tertata rapi, manisnya pas, dan bentuknya utuh. Juadah yang cacat atau belum matang tentu tidak akan kita suguhkan kepada tamu sebagai bentuk penghormatan.
Menghidangkan juadah adalah soal harga diri tuan rumah dalam menjamu kerabat.
Sebagai seorang Jaksa, saya sering merenung: mengapa dalam urusan masakan kita bisa begitu teliti, namun dalam urusan informasi di ponsel, kita seringkali menyajikan “hidangan mentah” kepada orang lain?.
Di tengah kepulan aroma kopi Lampung yang pekat, mari kita bicara tentang bagaimana menjaga jemari agar tetap bermartabat di era digital.
Budaya “Memindai” dan Santan yang Pecah
Di era digital ini, kita hidup dalam kecepatan yang luar biasa. Kita sering terjebak dalam budaya scrolling yang mekanis—jemari mengusap layar secepat kilat, mata hanya menangkap judul yang berteriak, lalu hati langsung tergerak untuk menekan tombol “bagikan”. Kita tidak lagi benar-benar membaca untuk memahami, melainkan hanya memindai (scanning).
Informasi yang hanya dibaca sepotong itu ibarat menyajikan Gulai Taboh yang santannya pecah.
Kelihatannya seperti gulai, warnanya kuning menggoda, tapi rasanya salah dan teksturnya rusak. Dalam dunia hukum, satu kata yang hilang atau satu titik yang salah tempat bisa mengubah seluruh makna kebenaran.
Saat kita membagikan berita yang hanya kita baca judulnya, kita sebenarnya sedang menyuguhkan hidangan “beracun” kepada kerabat, teman, dan tetangga kita di tanah Sang Bumi Ruwa Jurai.
Kita menciptakan kebingungan yang seharusnya bisa dicegah dengan sedikit kesabaran untuk membaca hingga tuntas.
Pelajaran dari Langit: Hoaks di Balik “Buah Khuldi”
Kita mungkin mengira hoaks adalah fenomena modern yang lahir bersama internet. Padahal, jika kita membuka lembaran religi, tragedi pertama umat manusia bermula dari sebuah kabar bohong yang tidak dicek kebenarannya.
Nabi Adam AS diturunkan dari surga bukan karena kekerasan fisik, melainkan karena ia terpapar disinformasi. Iblis tidak datang dengan wajah menyeramkan, melainkan sebagai penasihat yang seolah-olah tulus. Iblis membisikkan bahwa buah Khuldi adalah kunci keabadian. Sebuah kabar bohong yang dikemas begitu rapi dan manis, seperti juadah yang tampilannya indah namun isinya merusak.
Adam tergiur karena hanya melihat “permukaan” janji tersebut tanpa melakukan tabayyun (klarifikasi) kepada Sang Pencipta.
Pelajarannya abadi dan sangat relevan dengan media sosial kita hari ini: kabar bohong yang ditelan mentah-mentah mampu mencabut kedamaian bahkan dari tempat seindah surga sekalipun.
Jika Adam saja bisa terperdaya, apalagi kita yang setiap hari dihujani ribuan informasi di layar ponsel ?.
Manipulasi Konteks: Saat Informasi “Dikebiri”
Dalam praktik hukum, saya sering menemukan apa yang disebut dengan Contextomy atau manipulasi konteks. Ini adalah teknik jahat di mana seseorang mengambil potongan pernyataan, lalu membuang latar belakang atau penjelasannya. Ini ibarat seseorang yang mengambil foto kita saat sedang marah, lalu menyebarkannya seolah-olah kita adalah orang yang pemarah setiap saat, padahal saat itu kita sedang memerankan sandiwara atau memberikan ilustrasi.
Sejarah mencatat betapa mengerikannya dampak kabar bohong. Perang Dunia II meletus karena rekayasa informasi yang dipercaya mentah-mentah oleh dunia. Di era sekarang, teknik ini digunakan untuk merusak kepercayaan antarnegara, memicu konflik suku, hingga menjatuhkan martabat seseorang.
Informasi yang tidak lengkap sebenarnya lebih berbahaya daripada kebohongan total, karena ada “sedikit kebenaran” di dalamnya yang digunakan untuk menipu banyak orang.
Piil Pesenggiri: Menjaga Martabat di Balik Layar
Masyarakat Lampung memiliki warisan luhur yang tiada duanya, yaitu Piil Pesenggiri. Di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur seperti Nemu Nyimah (bermurah hati dan terbuka) serta Sakai Sambayan (gotong royong). Budaya kita mengajarkan bahwa setiap ucapan dan tindakan adalah cerminan dari kehormatan keluarga dan kaum.
Namun, apakah martabat atau Piil itu tetap kita jaga saat jemari kita asyik scrolling? Menyebarkan kabar yang belum tentu benar tentang orang lain, atau membagikan potongan video yang menyudutkan pihak tertentu hanya agar terlihat “paling tahu”, sebenarnya sedang meruntuhkan martabat kita sendiri.
Menyajikan informasi bohong atau yang belum masak itu seperti menyuguhkan Juadah yang sudah basi atau mentah kepada tamu agung. Bukannya mendapat pujian, kita justru merusak nama baik sendiri dan mempermalukan keluarga. Martabat seseorang tidak diukur dari seberapa cepat ia membagikan berita yang viral, tapi seberapa bijak ia menahan diri dan memastikan informasi itu “masak” secara sempurna sebelum disebarkan ke tengah ulun banyak.
Menjadi Jaksa Bagi Diri Sendiri
Di kantor, saya harus menimbang setiap perkara berdasarkan bukti sah, fakta yang utuh, dan kejujuran saksi. Prosesnya panjang dan melelahkan karena keadilan tidak bisa lahir dari ketergesa-gesaan. Namun di ruang digital, Andalah “jaksa” bagi diri Anda sendiri. Sebelum jemari Anda bergerak membagikan sesuatu, jadilah penuntut yang kritis terhadap informasi tersebut.
Jangan biarkan diri kita hanya menjadi pemindai layar yang pasif. Sebelum berbagi, cobalah ingat proses memasak Gulai Taboh yang sempurna :
Cek Bahannya (Verifikasi) : Apakah berita ini benar? Jangan-jangan ini hanya clickbait yang isinya jauh berbeda dengan judulnya yang provokatif.
Cek Bumbunya (Konteks) : Apakah informasi ini lengkap? Informasi yang dipotong-potong seringkali sengaja dibuat untuk menciptakan kekacauan atau disinformasi.
Cek Penyajiannya (Manfaat) : Apakah informasi ini bermanfaat bagi orang lain? Ataukah hanya akan memicu sentimen kebencian dan merusak keharmonisan di grup WhatsApp keluarga?
Penutup: Jaga Kedamaian Sang Bumi Ruwa Jurai
Agama diperuntukkan untuk membawa rahmat, dan salah satu caranya adalah dengan perintah Tabayyun. Budaya Lampung diciptakan untuk menjaga kehormatan manusia melalui laku yang santun. Mari kita jadikan media sosial kita seperti ruang tamu rumah adat kita—tempat yang bersih dari kotoran fitnah, penuh rasa hormat, dan hanya menyampaikan kebenaran yang membawa keteduhan bagi sesama.
Jangan sampai hanya karena satu jemari yang tidak sabar saat memindai layar ponsel di sela-sela waktu istirahat, kedamaian di Lampung Tengah yang kita cintai ini terkoyak. Mari kita menjadi warga digital yang cerdas, tidak mudah tersulut emosi, dan selalu menjaga adab.
Ingatlah, setiap kata yang kita ketik akan meninggalkan jejak permanen di dunia digital, dan setiap “hidangan” informasi yang kita bagikan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya—baik di hadapan hukum negara maupun di hadapan Sang Maha Mengetahui.
Mari kita masak kebenaran dengan sabar, agar hidangan informasi yang kita sajikan selalu membawa berkah bagi semua.
Tabik Pun.




Tinggalkan Balasan