Anak Pertama Rosim Nyerupa Dianugerahi Nama Regina Alroseana Senjakala Oleh Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke 23
Bandar Lampung | Saliwa.ID — Di sebuah momen yang sederhana namun sarat makna, suara hangat penuh doa terdengar dari seorang pemimpin adat. Bukan diiringi dupa atau mantra, melainkan lantunan niat tulus dari seorang raja yang mengakar pada nilai-nilai Islam dan kearifan lokal Lampung.
Dalam balutan busana adat, Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23 Kepaksian Pernong, Paduka Yang Mulia Saibatin Puniakan Dalom Beliau Pangeran Edward Syah Pernong, menyerahkan sebuah piagam adat istimewa kepada pasangan Rosim Nyerupa., S.I.P dan Anisa Pirlangga., S.Pd.

Bukan gelar kebangsawanan, melainkan sebuah nama untuk puteri kecil mereka. Nama yang akan menjadi bekal dan doa sepanjang hayat, dikenang sampai anak keturunannya.
Namanya, Regina Alroseana Senjakala, yang berarti “Seorang Ratu Cantik Bak Mawar yang Mekar di Waktu Senja.” Sebuah ungkapan indah yang mencerminkan harapan akan kecantikan hati, keteguhan jiwa, dan kebijaksanaan yang akan tumbuh seiring waktu.

“Nama bukan hanya panggilan. Ia adalah doa, tanggung jawab, dan identitas yang akan melekat sepanjang hidup,” titah sang Sultan sembari menyerahkan piagam adat Minggu (27/9/2025)
Prosesi ini merupakan tanda kasih dan ikatan kekeluargaan antara Rosim Nyerupa dan keluarga besar Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong, sebuah tradisi dalam adat Lampung yang disebut Angkon Muwakhi, di mana seseorang menjadi saudara secara adat dan spiritual. Sosok ayah regina, Rosim Nyerupa, sejak 2016 telah menjalin hubungan baik dengan Saibatin Raja Adat Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong itu.
Bagi seorang aktivis yang dikenal vokal, Sosok SPDB Pangeran Edward Syah Pernong adalah mentor besar yang biasa disebutnya sebagai the big mentor.

Rosim Nyerupa mengungkapkan rasa hormat dan kedekatannya dengan Paduka Yang Mulia, SPDB Pangeran Edward Syah Pernong, Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke‑23.
Sosok Pangeran Edward Syah Pernong bukan hanya seorang pemimpin adat, melainkan juga guru kehidupan yang telah memberinya banyak ilmu dan kehormatan.

“Beliau bukan hanya cerdas, tapi juga sangat peduli dengan keluhuran adat istiadat. Saya banyak belajar dan mengabdi dengan beliau. Selama berinteraksi, Saya jadi salah satu saksi betapa hanggumnya beliau terhadap orang lain, merangkul dan mengayomi semua orang tidak membedakan layar belakang, umur, suku, bangsa dan agama” ungkap Rosim, saat mengenang hubungan panjangnya dengan pemimpin tertinggi Kerajaan Sekala Brak Kepaksian Pernong itu.

Rosim pertama kali mengenal Pangeran Edward Syah Pernong pada tahun 2016. Setahun kemudian, tepatnya pada 2017, ia secara resmi diangkat menjadi bagian dari kerabat besar Gedung Dalom Kepaksian Pernong, sebuah kehormatan yang tidak diberikan secara sembarangan.
Pin Kerajaan dan Tukkus Hanuang Bani disematkan langsung kepadanya, sebagai lambang ikatan kemuwakhian (persaudaraan dalam adat) yang sah secara adat dan spiritual.
“Itu bukan sekadar simbol. Di balik pin dan tukkus itu ada tanggung jawab, ada dedikasi, dan ada nilai-nilai luhur yang harus dijaga,” ujar Rosim.

Sejak saat itu, ia terlibat dalam berbagai kegiatan adat dan upaya pelestarian warisan budaya. Ia menyebut, proses belajar bersama Pangeran Edward Syah Pernong selama ini telah membentuk cara pandangnya dalam memahami sosial dan adat, sejarah, dan pentingnya menjaga identitas kultural di tengah arus modernisasi.

“Tidak banyak orang seperti beliau, yang di satu sisi sangat terbuka dengan kemajuan zaman, tapi di sisi lain sangat konsisten menjaga akar tradisi, Apalagi mengkader,” tambah Rosim.
Kemudian, Setelah dikarunia seorang anak, Rosim Nyerupa kembali menerima penghargaan sebagai bentuk rasa kasih seorang Sultan, Pangeran Edward Syah Pernong memberikan nama pada Puterinya.
“Berapa berharganya piagam adat ini bagi anak saya dimasa tuanya nanti. Akan jadi catatan sejarah yang membanggakan. Akan jadi cerita hingga anak keturunan nanti setelah kita jadi nenek moyang bagi generasi 50 tahun kelak. Ini merupakan suatu kehormatan bagi kami sekeluarga besar di Lamban Nuwo Banjakh Masin yang ada di Lampung Tengah” Ujar Rosim dengan rasa bangga.

Tak ada kemegahan berlebihan dalam ruangan saat pemberian piagam adat untuk anak pertamanya. Hanya tatapan haru seorang ayah, senyum lembut seorang ibu yang menggendong bayinya, dan kehangatan para tokoh adat yang berdiri menyaksikan dan sejumlah tokoh Tionghoa di Lampung yang diberikan gelar atau adok oleh Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke 23.

Tapi justru dari kesederhanaan itulah lahir makna yang begitu dalam: bahwa warisan budaya bukan sekadar simbol, melainkan kasih sayang yang diwariskan lintas generasi.
Momen ini terjadi bersamaan dengan penganugerahan gelar adat kepada sejumlah tokoh Tionghoa di Lampung, menandakan eratnya hubungan kerajaan adat dengan seluruh elemen masyarakat, tanpa memandang latar belakang suku maupun agama.

“Ini bukan sekadar seremoni,” ujar Pun Edward, “Ini adalah pengakuan bahwa kita satu dalam adat, satu dalam kemanusiaan.” Pungkasnya.
Regina kecil mungkin belum mengerti makna nama yang kini disematkan padanya.
Tapi kelak, saat ia tumbuh, ia akan tahu: bahwa pada suatu hari di tanah leluhurnya, ia telah disambut dengan cinta, kehormatan, dan doa dari seorang raja.





Tinggalkan Balasan