Bali selalu punya cara memikat hati. Bukan hanya melalui pantainya yang memesona atau sawah bertingkat yang mendunia, tetapi juga lewat kekayaan budayanya yang terus hidup di tengah arus modernisasi.

Salah satu bukti nyata itu terlihat dalam Karya Baligia, sebuah ritual adat yang berlangsung di Puri Agung Karangasem pada 20–23 Juli 2025.

Puri Agung Karangasem pada 20–23 Juli 2025, Bali | Foto: Istimewa

Acara ini bukan sekadar seremoni. Di balik denting gamelan dan aroma dupa yang memenuhi udara, tersimpan makna mendalam tentang persaudaraan, keberlanjutan budaya, dan bahkan peluang besar untuk mengembangkan pariwisata berbasis tradisi.

Tamu-Tamu dari Penjuru Nusantara

Suasana Puri Agung Karangasem semakin semarak dengan hadirnya tamu-tamu kehormatan dari berbagai kerajaan adat di Indonesia.

Di antara mereka adalah YM SPDB Pangeran Edward Syah Pernong, raja dari  Kerajaan Sekala Brak Kepaksian Pernong Lampung yang juga mewakili Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN).

SPDB Pangeran Edward Edward Syah Pernong tidak datang sendirian. Ia didampingi para tokoh adat, termasuk Panglima Alip dan Temunggung Tongkok Podang.

Kehadiran mereka disambut hangat oleh Anak Agung Made Kosalia, perwakilan tuan rumah dari Puri Agung Karangasem.

Pertemuan lintas daerah ini menciptakan suasana yang penuh warna sebuah percampuran dialek, pakaian adat, dan cerita tentang tradisi yang berbeda namun saling melengkapi.

“Adat dan kerajaan bukan hanya bagian dari sejarah masa lalu. Keduanya adalah identitas dan kebanggaan yang harus dijaga. Kita ingin generasi muda tetap mengenalnya dan menjadikannya bagian dari hidup mereka,” ungkap Pangeran Edward.

Pelajaran dari Karangasem untuk Daerah Lain

Bagi rombongan dari Kerajaan Sekala Brak Kepaksian Pernong Lampung, Karya Baligia bukan hanya acara ritual, tetapi juga sumber inspirasi.

Panglima Alip, salah satu tokoh adat yang hadir, menyoroti bagaimana Karangasem mampu memelihara adat sekaligus menjadikannya daya tarik wisata yang kuat.

“Ketika masyarakat setempat menjaga budayanya, otomatis daerah menjadi aman dan harmonis. Hal ini juga membuat wisatawan merasa nyaman untuk datang. Itu pelajaran penting bagi kita semua,” katanya.

Temunggung Tongkok Podang menambahkan perspektif menarik: potensi Lampung Selatan sebenarnya tidak kalah besar.

Dari garis pantainya yang panjang, pegunungan, hingga situs budaya dan tradisi adat, semua bisa diangkat menjadi magnet wisata.

“Kuncinya ada pada kesiapan kita menciptakan suasana yang kondusif. Jika pengunjung merasa aman dan diterima, mereka akan datang lagi dan lagi. Pariwisata berbasis budaya bisa menjadi cara untuk memajukan daerah tanpa kehilangan identitas,” ujarnya.

Lebih dari Sekadar Ritual

Bagi masyarakat Karangasem, Karya Baligia adalah wujud penghormatan kepada leluhur. Namun bagi para tamu yang hadir, acara ini menjadi bukti nyata bahwa budaya bisa menjadi jembatan antardaerah.

Suara gong, tarian sakral, hingga busana tradisional yang berwarna-warni tidak hanya memikat mata, tetapi juga menghadirkan rasa kebersamaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Karya Baligia tahun ini memberi pesan sederhana namun kuat, tradisi tidak membuat kita mundur, justru bisa menjadi jalan untuk melangkah maju bahkan dalam hal ekonomi dan pariwisata.