Bandar Lampung | Saliwa.ID – Upaya memperkenalkan budaya Lampung ke kancah nasional dan internasional mendapat momentum baru melalui media visual. Indonesiana TV, saluran yang konsisten mengangkat kebudayaan Nusantara, tengah memproduksi film dokumenter bertema kuliner dan perjalanan budaya Lampung Saibatin.

Lebih dari sekadar proyek dokumenter, inisiatif ini menjadi jembatan diplomasi budaya yang melibatkan banyak pihak tokoh adat, generasi muda, hingga Pemerintah Provinsi Lampung.

Salah satu kunci penggerak sinergi tersebut adalah Rahmat Santori, Tenaga Pendamping Gubernur Lampung Bidang Kebudayaan. Ia tak hanya menjadi fasilitator antara tim produksi dan tokoh adat, tapi juga berperan strategis sebagai penerjemah nilai-nilai budaya ke dalam bahasa sinema yang bisa dipahami khalayak luas.

“Ini bukan sekadar dokumentasi. Ini adalah cara kita mengajak dunia menyelami jiwa budaya Lampung,” ujar Rahmat Santori, Selasa (5/8/2025).

Dukungan Pemerintah Provinsi Lampung terhadap proyek ini ditunjukkan tidak hanya melalui izin, tapi juga keterlibatan aktif dalam setiap tahap produksi. Pemprov menyadari, kekuatan budaya lokal harus disebarluaskan melalui medium yang relevan dan menarik, terutama bagi generasi muda.

Film ini juga membuka ruang perjumpaan yang berharga antara tim Indonesiana TV dan SPDB Pangeran Edward Syah Pernong, Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23 Kepaksian Pernong.

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat, Sultan berbagi pandangan tentang warisan adat, filsafat hidup masyarakat Lampung, hingga pentingnya menjaga roh kebudayaan dari gerusan zaman.

“Budaya itu bukan bangkai sejarah. Ia adalah nafas kita, jati diri kita. Kalau itu hilang, maka kita jadi orang asing di tanah sendiri,” ujar Pangeran Edward.

Dokumenter ini juga menggali kekayaan kuliner khas Lampung Saibatin, seperti seruit, gulai taboh, dan lemea.

Bukan sekadar makanan, tiap sajian dijelaskan sebagai bagian dari struktur sosial dan spiritual masyarakat adat. Melalui pendekatan visual dan naratif, kuliner dihadirkan sebagai pintu masuk untuk memahami filosofi dan identitas Lampung.

Rahmat Santori menekankan bahwa proses ini juga menjadi ruang pembelajaran lintas generasi.

“Bagi saya, peran ini bukan untuk tampil, tapi untuk memastikan jembatan antar generasi dan antar budaya tetap terbangun. Saya hanya membantu agar dunia bisa mendengar suara leluhur kita dengan cara yang bisa mereka pahami,” katanya.

Pangeran Edward pun mengapresiasi semangat para pendamping muda yang punya pemahaman akan konteks global, namun tetap teguh memelihara akar budaya.

“Kita butuh orang muda seperti Kiyai Santori ini. Ia tahu bagaimana membuat tradisi tetap bernapas di tengah dunia yang berubah cepat,” tuturnya.

Film dokumenter ini direncanakan tayang di kanal resmi Indonesiana TV, dan diharapkan menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia ke panggung dunia. Tidak hanya untuk memperkenalkan Lampung, tetapi juga sebagai contoh bagaimana kolaborasi lintas usia dan kelembagaan bisa menjaga warisan budaya secara hidup dan relevan.

“Kalau setelah menonton, ada yang berkata ‘Saya ingin datang ke Lampung,’ maka itu bukan sekadar prestasi film itu kemenangan budaya,” tutup Rahmat.