Tugu Canang Sebagai Simbol Tradisi Komunikasi Masyarakat Lampung Tengah
Saliwa.ID – Tugu Canang yang dibangun oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Tengah bukan sekadar monumen fisik. Kehadirannya merepresentasikan warisan budaya dan sistem komunikasi tradisional masyarakat Lampung yang telah digunakan selama ratusan tahun.
Tradisi canang pada dasarnya merupakan metode penyampaian informasi atau instruksi yang dilakukan secara kolektif kepada masyarakat adat Lampung.
Informasi yang disampaikan melalui canang biasanya berkaitan dengan situasi darurat, kebijakan pemerintah kampung, arahan dari para penyimbang (pemimpin adat), hingga pemberitahuan mengenai upacara adat seperti begawi, penyematan gelar, maupun acara pelepasan adat.
Secara garis besar, canang dibedakan menjadi dua jenis:
1. Canang Keliling Kampung
Canang ini digunakan untuk menyebarkan informasi umum yang bersifat publik. Pelaksanaannya biasanya dilakukan oleh muli-mekhanai (pemuda-pemudi kampung) atau petugas pemerintahan desa.
Contoh informasi yang disampaikan misalnya:
- Himbauan dari kepala kampung agar seluruh warga memasang bendera merah putih secara serentak menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
- Ajakan untuk bergotong royong membuat pagar bambu atau membersihkan lingkungan desa.
- Undangan agar masyarakat berkumpul di balai kampung untuk mendengarkan pengumuman penting.
2. Canang Disesat Acara Adat
Jenis canang ini khusus digunakan dalam konteks acara adat dan biasanya disampaikan oleh perwatin (tokoh adat pria maupun wanita).
Isinya lebih bersifat internal dalam lingkup adat, seperti panggilan untuk merwatin (rapat adat), penyematan gelar, atau kegiatan adat lainnya.
Proses Pelaksanaan Canang
Tradisi canang memiliki pola penyampaian yang khas. Pada malam hari, biasanya setelah waktu shalat Isya, beberapa orang muli-mekhanai berkeliling kampung.
Salah satu di antaranya membawa talo lunik (alat pukul tradisional), yang berfungsi sebagai penanda. Prosesnya berlangsung sebagai berikut:
- Pemukulan Talo Lunik
Seorang pemegang talo memukul alat tersebut sebanyak tujuh kali:
“Tong… Tong… Tong… Tong… Tong… Tong… Tong…” - Penyampaian Informasi
Setelah pukulan talo berhenti, seorang penyampai pesan akan meneriakkan pengumuman dengan bahasa adat, misalnya: “Sirep sito segalo, canang sikam bebunyei, nigehken ito-ito dikaban unyen metteipun. Sikam dikayun kepalo nigehken beghito, bahwa gham unyen segalo dapek masang bendera jimmeh ulah agow 17-an.”Artinya : “Heninglah semua, canang kami berbunyi untuk menyampaikan pesan dari kepala kampung: seluruh warga diharapkan memasang bendera dalam rangka memperingati 17 Agustus.”
Nilai Historis dan Sosial Canang
Jika ditelaah lebih dalam, tradisi canang merupakan bentuk kearifan lokal yang lahir dari keterbatasan teknologi pada masa lalu.
Di era sebelum adanya radio, televisi, telepon, apalagi internet, masyarakat pedesaan Lampung menghadapi tantangan besar dalam menyebarkan informasi.
Kondisi geografis kampung yang luas dan jarak antar rumah yang berjauhan membuat metode ini menjadi solusi efektif.
Canang bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga sarana memperkuat rasa kebersamaan. Saat suara talo lunik terdengar, seluruh warga secara otomatis menghentikan aktivitasnya untuk mendengarkan pesan bersama-sama.
Ada nilai disiplin, kesetaraan, dan solidaritas sosial yang tercermin dalam praktik ini.
Memasuki tahun 2000-an, tradisi canang mulai mengalami kemunduran. Perkembangan teknologi komunikasi mulai dari handphone, pesan singkat, hingga media sosial mengubah cara masyarakat menerima dan menyebarkan informasi.
Apa yang dahulu dilakukan dengan berjalan keliling kampung kini dapat tersampaikan hanya dengan satu pesan grup WhatsApp.
Meski demikian, hilangnya praktik ini tidak berarti menghapus makna budaya yang terkandung di dalamnya.
Justru pembangunan Tugu Canang oleh pemerintah daerah menjadi upaya pelestarian simbolik agar generasi mendatang tetap mengenal akar tradisi komunikasi masyarakat Lampung.




Tinggalkan Balasan