Saliwa.id, Bandar Lampung – Dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kelurahan Wiyono menggelar pemotongan hewan kurban di sekitar kantor setempat, Rabu (27/5/2026). Kegiatan ini melibatkan masyarakat RT 01 dalam suasana kebersamaan dan gotong royong.

Dewan Pakar DPW Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (GAPEMBI) Lampung, Drs. Agustam Syah, M.IP, menegaskan bahwa pelaksanaan kurban tahun ini sengaja dilakukan bersama masyarakat sebagai bagian dari penguatan nilai spiritual sekaligus sosial di lingkungan setempat.

“Kurban ini pada tahun ini kita sama-sama laksanakan bersama masyarakat Kelurahan Wiyono RT 01,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Agustam menyampaikan pemaknaan mendalam terkait hakikat nikmat dan musibah dalam perspektif keimanan.

Ia menjelaskan bahwa tidak semua nikmat yang diterima manusia benar-benar menjadi kebaikan, begitu pula musibah tidak selalu bermakna keburukan.

“Hakikat ni’mat sebagai hikmah qurban. Nikmat yang kita terima belum tentu benar-benar nikmat, musibah yang kita derita belum tentu benar-benar musibah. Jika nikmat itu menjauhkan kita dari Allah, itulah sebenar-benarnya musibah. Sebaliknya, jika musibah mendekatkan kita kepada Allah, itulah sebenar-benarnya nikmat,” jelasnya.

Menurutnya, sikap orang beriman tercermin dari bagaimana menyikapi dua kondisi tersebut.

“Ketika mendapatkan nikmat kita bersyukur, dan ketika ditimpa musibah kita bersabar. Hal inilah yang membuat Allah jatuh cinta kepada kita,” lanjutnya.

Agustam juga mengaitkan makna kurban dengan kisah Nabi Ibrahim AS sebagai refleksi keimanan.

Ia menekankan bahwa setiap manusia sejatinya memiliki “Ismail” dalam hidupnya, yang bisa berupa jabatan, harta, popularitas, maupun keluarga.

“Setiap orang punya Ismail. Bisa jadi jabatannya yang dia ‘tuhankan’, bisa jadi hartanya, popularitasnya, bahkan keluarganya. Maka Allah meminta itu semua dikorbankan agar tauhid kita tetap lurus hanya kepada Allah,” paparnya.

Ia menambahkan, ujian keimanan Nabi Ibrahim pada hakikatnya adalah proses pembersihan hati dari kecintaan berlebihan terhadap makhluk.

Peristiwa tersebut, kata dia, menjadi pelajaran penting bahwa semangat kurban memiliki nilai tauhid yang sangat tinggi.

Dalam konteks kekinian, Agustam menilai semangat kurban juga tercermin dalam kebijakan negara melalui program MBG, yang “mengorbankan” sebagian anggaran untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia.

“Dengan semangat yang sama, para mitra SPPG diharapkan tidak hanya mengejar keuntungan material, tetapi juga berani berinvestasi pada kualitas sumber daya manusia Indonesia ke depan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya fungsi pengawasan dalam pelaksanaan program MBG agar tidak disalahgunakan.

Menurutnya, evaluasi harus terus dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak.

“Koordinasi dengan pemerintah daerah wajib dilakukan. Program MBG ini tidak bisa sukses tanpa kolaborasi produktif antara KPPG, KAREG, KORWIL, KORCAM, hingga KSPPG di setiap dapur. Kuncinya adalah sinergi yang positif,” tegasnya.

Agustam turut mengimbau seluruh anggota untuk menumbuhkan semangat berkurban sebagai bagian dari keimanan yang utuh.

“Kita himbau semua anggota kita untuk mencintai semangat kurban ini, sebagai bagian dari tahanus bin ni’mah. Itulah ciri anggota yang benar-benar beriman kepada Tuhannya,” katanya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa program MBG tidak hanya berorientasi pada pemenuhan gizi anak-anak sekolah, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat.

“Program ini bukan hanya memberi makan anak-anak sekolah, tetapi juga menyerap tenaga kerja dan menghidupkan UMKM. Mulai dari pengrajin tempe, peternak ayam, hingga pemasok beras, semuanya kita libatkan dari lingkungan sekitar. Inilah konsep al-maslahah dalam Islam,” jelasnya.

Ia pun menitipkan harapan kepada lingkungan setempat agar dapur MBG benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi warga.

“Saya titip kepada Pak RT agar dapur ini sepenuhnya memberi manfaat bagi masyarakat desa dan anak-anak di sini,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua RT 01 Kelurahan Wiyono, Sutarjo, mengaku bersyukur atas keberadaan dapur MBG yang dinilai sangat membantu warga, khususnya dalam mengurangi pengangguran.

“Alhamdulillah warga kita terbantu, terutama dalam menyerap tenaga kerja. Ini sangat membantu,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih atas bantuan hewan kurban yang diberikan pada momen Idul Adha tahun ini.

“Alhamdulillah ada disisihkan rezeki, diberikan satu ekor kerbau untuk kurban. Itu kami sangat berterima kasih, dan dibagikan ke warga satu RT dan sekitarnya,” tandasnya.

Di sisi lain, Kepala Dapur Wiyono Putra Sai Helau turut mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan kurban tahun ini.

“Alhamdulillah dapur Wiyono dapat melaksanakan kurban tahun ini. Berkurban adalah bentuk syukur kita atas kebesaran Allah SWT, dan kita patut meneladani kisah Nabi Ibrahim dan Ismail,” pesannya.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga mempererat kebersamaan warga serta memperkuat dampak sosial dan ekonomi dari program MBG di tingkat lingkungan.