Kapolda Lampung Dianugerahi Gelar Adat Lewat Tradisi Angkon Muwakhi di Kerajaan Sekala Brak Kepaksian Pernong
Lampung Barat — Dalam suasana adat yang khidmat dan sarat makna budaya, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Lampung Irjen Pol. Helmy Santika, S.H., S.IK., M.Si secara resmi dianugerahi gelar kehormatan “Batin Mas Agung Arya Pemuka Negara” oleh Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong, dalam sebuah prosesi Angkon Muwakhi yang digelar di Gedung Dalom, Pekon Balak, Kecamatan Batu Brak, Kabupaten Lampung Barat, Minggu (29/6) kemarin.
Upacara adat Angkon Muwakhi, yang secara harfiah berarti “mengangkat saudara”, merupakan tradisi sakral dalam masyarakat adat Lampung, khususnya di lingkungan Kepaksian Pernong. Tradisi ini dilakukan untuk menjalin persaudaraan sejati secara adat antara seseorang yang dihormati dengan keluarga besar adat, sekaligus menjadi simbol penerimaan dan pengakuan terhadap nilai-nilai luhur yang dijunjung oleh masyarakat adat Lampung.
Dalam prosesi tersebut, Irjen Helmy Santika tidak hanya dianugerahi gelar adat, tetapi juga secara simbolik dimasukkan dalam rumpun kekerabatan adat melalui pengucapan sumpah persaudaraan, penyematan pin emas Kerajaan Sekala Brak, serta penyerahan piagam kehormatan dari Paduka Yang Mulia Saibatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Pangeran Edward Syah Pernong, Sultan Sekala Brak yang Dipertuan Ke-23.
Prosesi adat ini dihadiri oleh jajaran pejabat utama Polda Lampung, Forkopimda, para pemuka adat dari berbagai daerah, serta ribuan masyarakat yang memadati kawasan Gedung Dalom. Nuansa adat terasa kental dengan iringan gamolan, syair Lampung tua, dan tarian sakral khas Kepaksian.
Dalam sambutannya, Kapolda Helmy Santika menyampaikan rasa haru dan terima kasih atas kehormatan yang diberikan. “Ini adalah kehormatan besar sekaligus tanggung jawab moral. Sebagai bagian dari keluarga besar adat, saya berkomitmen untuk terus menjalin sinergi dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta melestarikan nilai-nilai budaya luhur di Tanah Lampung,” ucapnya.
Sementara itu, Pangeran Edward Syah Pernong menegaskan bahwa tradisi Angkon Muwakhi bukan hanya seremoni, melainkan pengikat batin dan komitmen terhadap nilai-nilai adat, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial. “Kami menerima beliau bukan hanya sebagai Kapolda, tetapi sebagai saudara. Dan saudara dalam adat artinya berbagi tanggung jawab, melindungi rakyat, menjaga marwah adat dan negeri,” ungkapnya.
Kegiatan ini memperlihatkan bahwa hubungan antara negara dan masyarakat adat bisa berjalan selaras. Gelar yang diberikan melalui Angkon Muwakhi menjadi simbol kuat dari sinergi antara kekuatan formal negara dengan kekuatan kultural lokal, demi membangun Lampung yang aman, damai, dan berbudaya.




Tinggalkan Balasan