Usia 18 tahun bagi manusia menandakan kedewasaan lulus SMA, siap kuliah, dan mulai menentukan arah hidup.

Tapi bagi Kabupaten Pesawaran, 18 tahun ini justru terasa seperti remaja yang terlalu lama bercermin, sibuk mematut diri, tapi lupa mengevaluasi luka-luka di balik riasan.

Kabupaten ini tampak sibuk merayakan ulang tahun dengan tumpeng, panggung, lampu sorot, dan slogan yang berderak di tiap spanduk: “Bumi Wisata Sejuta Pesona.”

Sayangnya, pesona itu lebih sering berakhir sebagai ilusi optik indah di mata pengunjung, tapi asing di mata rakyatnya sendiri.

Pantai-pantai indah seperti Pahawang, Sari Ringgung, hingga Kelagian kini bukan lagi ruang bermain anak kampung, melainkan etalase eksklusif untuk segelintir elite.

Warga lokal? Hanya pelengkap layar. Penjaga parkir, pengantar perahu, atau pemandu yang dibayar seikhlasnya.

Pesawaran dirias untuk turis, tapi dilarang untuk tuan rumah. Seolah-olah daerah ini hanya sewaan mingguan di aplikasi pariwisata digital bisa dinikmati siapa saja, asal bukan pemilik rumah.

Perayaan hari jadi pun lebih mirip pesta kostum. Musik mengalun, pidato dibacakan, kamera berputar namun tanpa jeda untuk bertanya:

Mengapa desa-desa masih gelap gulita saat malam?

Mengapa anak muda lebih akrab dengan ojek daring di rantau daripada ladang sendiri?

Mengapa petani tetap ditinggal menghitung sendiri hasil panen, sementara pupuk datang telat dan panen diborong murah?

Infrastruktur dibangun, tetapi bukan untuk mempermudah akses petani ke pasar melainkan agar mobil SUV wisatawan bisa mulus melaju ke resort.

Anggaran digelontorkan, tapi bukan untuk membenahi sekolah atau puskesmas melainkan untuk mengecat panggung yang hanya dinikmati pejabat.

Pesawaran menjelma menjadi kabupaten etalase: cantik dari jauh, penuh pencitraan, tapi kosong ketika disentuh. Keadilan sosial masih jadi utopia di pinggir baliho.

Sebagai anak bangsa, sebagai mahasiswa yang menolak tinggal diam, dan sebagai saksi langsung ketimpangan yang dibiarkan tumbuh subur, izinkan saya mengucapkan Selamat ulang tahun, Pesawaran.

Tapi jangan rayakan usia jika tak siap menjadi dewasa. Jangan bersolek di podium jika rakyatmu masih bertelanjang kebutuhan.

Enam Jalan Menuju Pesawaran yang Lebih Waras:

1. Audit & Redistribusi Akses Wisata

Stop privatisasi pantai dan pulau. Warga lokal bukan hanya penonton—mereka pemilik sah tanah ini. Libatkan BUMDes sebagai pengelola utama, bukan sekadar penyedia parkir dan toilet.

2. Infrastruktur Dasar Dulu, Destinasi Belakangan

Perbaiki jalan desa sebelum membangun akses ke resort. Irigasi, sekolah, puskesmas harus jadi prioritas. Apa arti ‘wisata unggulan’ jika warga hidup dalam gelap, lumpur, dan kekurangan?

3. Anggaran Rakyat, Bukan Rapat

Jangan biarkan Musrenbang jadi rutinitas tidur pejabat. Terapkan anggaran partisipatif: dengarkan suara petani, nelayan, buruh tani, bukan hanya suara mereka yang akrab di ruang tunggu bupati.

4. Jaga Lahan, Lindungi Dapur Warga

Hentikan alih fungsi lahan produktif. Berikan subsidi nyata untuk benih, pupuk, alat pertanian.

Jangan bangga mendatangkan turis jika dapur warga tetap menggantung dari kabupaten tetangga.

5. Bersihkan Birokrasi, Bangun Meritokrasi

Akhiri jual beli jabatan. ASN bukan boneka, tapi pelayan.

Rekrutlah berdasarkan integritas dan kompetensi. Cukup sudah birokrasi jadi panggung drama dinasti.

6. Pendidikan Berbasis Potensi Lokal

Dirikan Sekolah Vokasi yang menjawab kebutuhan riil: pariwisata rakyat, pertanian cerdas, perikanan mandiri, kerajinan berbasis budaya. Bukan sekadar mengejar ijazah, tapi membangun masa depan dari akar. Wallahualam bisawab. Tabik pun.

*Ditulis oleh : Wildan Hanafi., S.Pt | Fungsionaris HMI Badko Sumbagsel