Saliwa.id, Bandar Lampung – Langit belum benar-benar membuka pagi ketika satu per satu motor merapat ke pelataran Masjid Baitun Nabat, Kompleks Perumahan PTPN Regional 7 Kedaton, Bandar Lampung, Sabtu itu.

Udara subuh masih dingin, menyisakan embun yang belum sempat jatuh. Namun yang datang pagi itu bukan sekadar rombongan pecinta roda dua.

Sekitar 70 anggota Bikers Subuhan hadir dengan satu perasaan yang sama kehilangan yang belum tuntas.

Mereka tidak membawa semangat perjalanan. Tidak pula tawa khas komunitas. Yang mereka bawa adalah duka untuk seorang polisi bernama Bripka Anumerta Arya Supena.

Sejak pukul 04.30 WIB, masjid terasa berbeda. Deru motor yang biasanya keras, pagi itu seperti merendah, berubah menjadi langkah-langkah pelan yang penuh kehati-hatian, seolah takut mengganggu suasana duka.

Wajah-wajah yang datang tampak tertunduk. Beberapa saling menepuk bahu, tanpa banyak kata.

Pagi itu, mereka tidak sedang berkumpul. Mereka sedang berpamitan dengan cara yang paling sunyi.

Salat subuh berjemaah menjadi awal. Lalu, ketika salat gaib digelar, suasana berubah semakin hening.

Nama Arya disebut dalam doa. Beberapa kepala tertunduk lebih lama dari biasanya. Sebagian menahan napas, sebagian lagi menahan air mata.

Sebab bagi mereka, Arya bukan sekadar anggota polisi.

Ia adalah seseorang yang pergi dari rumahnya untuk memastikan orang lain bisa pulang dengan selamat.

Seusai doa dan kajian singkat, rombongan bergerak menuju lokasi penembakan di kawasan Toko Yussi Akmal. Di titik itulah, pengabdian Arya berakhir.

Karangan bunga diletakkan perlahan. Tidak ada komando. Tidak ada suara keras. Hanya doa-doa lirih yang mengalir bersama angin pagi.

Beberapa orang berdiri lebih lama di titik itu. Menatap tanpa kata.

Seolah mencoba membayangkan detik terakhir seorang aparat yang tetap berdiri, meski tahu nyawanya sedang dipertaruhkan.

Awalun Bikers Subuhan, MD. Rizani, berbicara dengan suara yang nyaris tak utuh. Ia mengajak semua yang hadir untuk mengingat kembali makna dari titik itu.

“Di sinilah almarhum mengorbankan nyawanya demi rasa aman,” ucapnya pelan.

Kalimat itu menggantung di udara. Tak perlu diperpanjang. Semua yang hadir sudah memahami.

Ia kemudian mengingatkan sesuatu yang sering dilupakan bahwa di balik rasa aman yang kita rasakan setiap hari, ada orang-orang yang berjaga tanpa kita kenal, bahkan tanpa kita sadari.

“Saat kita tidur nyenyak, saat kita beribadah dengan tenang, ada yang menjaga. Bahkan sampai kehilangan nyawa,” katanya.

Pagi itu kembali sunyi.

Tak ada yang menyangkal. Tak ada yang menyela.

Sebab di hadapan kenyataan seperti itu, kata-kata sering kali kehilangan makna.

Rizani juga menyinggung satu hal yang tak bisa dihindari siapa pun kematian. Bahwa setiap orang akan pergi, tetapi cara seseorang pergi adalah cerminan dari bagaimana ia menjalani hidupnya.

Dan Arya, pagi itu, dikenang sebagai seseorang yang memilih tetap berdiri di garis depan.

Bukan saat bersama keluarga. Bukan saat beristirahat. Tapi saat menjaga orang lain orang-orang yang mungkin tak pernah ia kenal.

Doa-doa yang dipanjatkan mungkin tak akan pernah cukup untuk membalas pengorbanan itu.

Namun setidaknya, pagi itu, ada sekelompok orang yang datang untuk tidak melupakan.

Kegiatan berakhir sekitar pukul 06.30 WIB. Matahari mulai naik perlahan, menerangi pelataran yang perlahan kembali sepi.

Namun duka belum benar-benar pergi.

Di antara jejak ban motor dan karangan bunga yang tertinggal, ada satu kesadaran yang diam-diam menetap di hati setiap orang yang hadir.

Bahwa rasa aman yang kita rasakan setiap hari, kadang dibayar dengan nyawa seseorang yang memilih tetap berdiri, ketika yang lain bisa berlindung.