Bandar Lampung | Saliwa.ID – Sejumlah tokoh masyarakat Tionghoa di Lampung menerima gelar adat dari Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong pada Minggu (27/7/2025).

Prosesi tersebut bukan hanya bersifat seremonial, melainkan juga pengakuan resmi yang menempatkan para penerimanya sebagai bagian dari masyarakat adat Lampung di Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong.

Paduka Yang Mulia Saibatin Puniakan Dalom Beliau, Pangeran Edward Syah Pernong, Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23 Kepaksian Pernong, menegaskan bahwa hubungan antara Kerajaan Adat Skala Brak dengan komunitas Tionghoa telah terjalin lama.

SPDB Pangeran Edward Syah Pernong Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke 23 Kepaksian Pernong dalam acara pemberian piagam adat penganugerahan gelar ke sejumlah tokoh Tionghoa di Lampung | Foto: Istimewa

“Dalam Kerajaan Sekala Brak Kepaksian Pernong, pemberian ini bukan sekadar gelar, tetapi pengakuan terhadap mereka didalam adat. Mereka dianggap sebagai puakhi pungsu atau saudara bungsu dalam keluarga besar Sekala Brak Kepaksian Pernong. Ini adalah bukti betapa indahnya kerukunan dan kebhinekaan ditanah Lampung. Masyarakat bisa hidup bersatu, guyub dan damai. Nilai persatuan itu penting, hidup ditengah harmonisasi budaya bangsa,” ujarnya.

Ikatan tersebut berawal dari tradisi angkon muakhi pada 2015 lalu, yang menjadikan mereka bagian dari keluarga adat.

“Adok yang diberikan akan melekat pada keturunan mereka. Seratus tahun ke depan, hingga anak cucu mereka akan mengetahui bahwa mereka adalah bagian dari keluarga Kerajaan Adat Skala Brak Kepaksian Pernong,” jelas Pangeran Edward.

Penyerahan piagam adat ke sejumlah tokoh Marga Tionghoa, Bandar Lampung 27/7/2025 | Foto: Istimewa.

Menurutnya, selama satu dekade terakhir para tokoh Tionghoa ini menunjukkan kepedulian nyata kepada masyarakat adat.

“Saya lihat kepedulian puwakhi pungsu kita ini sangat tinggi. Setiap Lebaran mereka datang ke Sekala Brak. Mereka juga sering mengadakan kegiatan sosial, memberi santunan, bahkan membantu membangun rumah bagi warga tidak mampu. Tentu sangat kita apresiasi setinggi-tingginya.” ungkapnya.

Salah satu penerima gelar, Agustinus Sobel Tanianto, yang dianugerahi gelar Radin Garis Penata Mega, menyampaikan ungkapan rasa bangga atas pemberian gelar dan pengakuan masyarakat adat Lampung.

“Kami Puwakhi Pungsu yang telah di-angkon muakhi pada tahun 2015, selama 10 tahun kami membina hubungan dengan baik. Paduka Yang Mulia Pangeran Edward Syah Pernong sangat sayang kepada kami. Dalam perjalanan waktu yang panjang tentunya kami juga sudah beberapa kali berkunjung ke Istana Sekala Brak di Lampung Barat.” ungkapnya.

Sejumlah tokoh Marga Tionghoa hadiri acara penyerahan piagam adat pemberian gelar, Bandar Lampung 27/7/2025 | Foto: Istimewa.

Ia menambahkan, Penghargaan tersebut akan jadi sejarah bagi anak keturunan dan membawa pesan persatuan ditanah Lampung.

“29 Juni 2025 yang lalu, kami Puwakhi Pungsu Bandar Lampung, Metro, Kotabumi, dan Pringsewu mendapatkan anugerah yang terhormat dari Paduka Yang Mulia berupa adok atau gelar. Kami sangat bersyukur atas adok yang disematkan untuk kami, saudara bungsu Sultan Sekala Brak Kepaksian Pernong. Ini merupakan peristiwa sejarah yang tidak bisa kami lupakan dalam hidup kami. Seperti yang beliau katakan, ini merupakan warisan hingga anak cucu. Terima kasih Paduka Yang Mulia atas budi baik yang begitu besar terhadap Puwakhi Pungsu se-Lampung. Semoga Paduka YM tetap sehat dan diberikan panjang umur.” imbuhnya.

Tokoh Tionghoa lainnya yang juga tergabung dalam PSMTI, Sukardi Soegiarto, B.Sc, penerima gelar Minak Pemuka Utama, menyatakan rasa bangga.

“Kami bangga diakui sebagai bagian dari Kerajaan Adat Skala Brak. Adat adalah perekat anak bangsa. Dari sini kami berharap bisa berbuat lebih besar untuk Lampung,” katanya.

Prosesi tangguh Saibatin Kerajaan Sekala Brak Kepaksian Pernong, Bandar Lampung 27/7/2025 | Foto: Istimewa.

Ia menambahkan amanah yang diberikan selama ini sebagai pembina hulubalang Bandar Lampung sebegai bentuk pengabdian nyata.

“Saya dipercaya menjadi pembina hulubalang. Ke depan, saya bercita-cita membesarkan peran hulubalang hingga ke setiap kecamatan di Bandar Lampung.” tambah Sukardi.

Adapun tokoh penerima gelar adat lain diantaranya:

  1. Sukardi Soegiarto, B.Sc – Minak Pemuka Utama
  2. Jenny Lee – Mas Itton Pemuka Utama
  3. Rusli Taslim – Radin Cahaya Marga
  4. Oh Ay Tjen – Kiemas Ayu Cahaya Bangsa
  5. Herman Gunawan – Minak Gunawan Putra
  6. Djohan – Kiemas Penata Marga
  7. Essy Hasan Basri – Mas Itton Ayu Santosa Jaya

Selain itu, gelar adat juga dianugerahkan kepada Dandim Kota Bandar Lampung, Letkol Arm Roni Hermawan, dengan gelar Radin Patria Arya Yuda Pemuka.

Pangeran Edward Syah Pernong menegaskan, penganugerahan gelar adat ini merupakan bagian dari upaya mempererat persatuan bangsa.

“Saudara-saudara kita dari marga Tionghoa kini menjadi bagian resmi dalam masyarakat adat Sekala Brak Kepaksian Pernong. Ini adalah perekat yang memperkuat semangat kebhinekaan dan persaudaraan kita,” tegasnya.

Dalam acara tersebut juga dilakukan penyerahan piagam adat penganugerahan nama anak pertama dari salah satu aktivis Lampung, Rosim Nyerupa, S.I.P., yang diberi nama Regina Alroseana Senjakala oleh SPDB Pangeran Edward Syah Pernong pada bulan Mei 2025 lalu. Pemberian nama tersebut sebagai bentuk rasa kasih Saibatin Kepaksian Pernong yang akan dikenang kelak kemudian hari.

Puteri pertama dari aktivis Rosim Nyerupa diberi nama Regina Alroseana Senjakala oleh SPDB Pangeran Edward Syah Pernong Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke 23 pada bulan Mei 2025 lalu kemudian ditabalkan dalam sebuah piagam adat Kerajaan Sekala Brak Kepaksian Pernong, Minggu 27/7/2025 | Foto: Istimewa.