Angka Kemiskinan Lampung Turun, Lebih dari 52 Ribu Warga Keluar dari Garis Miskin
Bandar Lampung | Saliwa.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat penurunan signifikan jumlah penduduk miskin pada Maret 2025.
Data terbaru menunjukkan, sekitar 887 ribu jiwa atau setara 10,65 persen penduduk kini berada dalam kategori miskin, turun dibandingkan periode September 2024 maupun Maret 2024.
Kepala BPS Provinsi Lampung, Faizal Anwar, menjelaskan bahwa secara jumlah, penduduk miskin berkurang 52.280 orang dibanding enam bulan sebelumnya.
Penurunan ini menandai tren positif yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
“Tren ini menunjukkan perbaikan kesejahteraan, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Namun tantangan tetap ada, terutama menjaga agar daya beli masyarakat tidak tergerus oleh inflasi,” jelas Faizal.
Penurunan Lebih Besar di Desa
Jika dirinci, wilayah perdesaan menyumbang porsi penurunan yang lebih besar.
Jumlah penduduk miskin desa turun menjadi 657,85 ribu orang, sementara di perkotaan angkanya tercatat 229,16 ribu orang. Persentase kemiskinan di desa kini 11,32 persen, sedangkan di kota 7,49 persen.
Garis Kemiskinan Naik
Di sisi lain, garis kemiskinan Lampung meningkat menjadi Rp 612.451 per kapita per bulan, naik sekitar 2,24 persen dari September 2024.
Peningkatan ini mencerminkan kenaikan harga kebutuhan pokok dan komponen non-makanan seperti perumahan, bahan bakar, serta biaya listrik.
Faktor yang Mendorong Penurunan
BPS mengaitkan penurunan angka kemiskinan dengan beberapa indikator ekonomi, antara lain:
- Inflasi melambat menjadi 1,58 persen.
- Pertumbuhan ekonomi Lampung pada Triwulan I 2025 mencapai 5,47 persen.
- Tingkat pengangguran terbuka turun ke 4,07 persen.
- Produksi padi meningkat, mendorong stabilitas harga gabah dan beras.
Masih Ada Pekerjaan Rumah
Meski capaian ini diapresiasi, BPS mengingatkan adanya kesenjangan antarwilayah.
Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Keparahan Kemiskinan (P2) masih lebih tinggi di pedesaan.
Program pengentasan kemiskinan perlu tetap fokus pada sektor pertanian, akses lapangan kerja, dan stabilisasi harga pangan.




Tinggalkan Balasan