Polri Angkat Budaya Bangsa, Menteri Fadli Zon Apresiasi Pagelaran Wayang Kulit
Jakarta – Dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-79, Kepolisian Negara Republik Indonesia kembali menggelar pagelaran wayang kulit yang sarat nilai budaya. Acara yang berlangsung di Lapangan Bhayangkara Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat malam (4/7), turut dihadiri oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Menteri Fadli menyampaikan apresiasinya terhadap komitmen Polri dalam merawat dan memajukan seni tradisi, khususnya wayang kulit. Ia menyebut langkah Polri sebagai wujud nyata kepedulian terhadap warisan budaya nasional yang perlu terus dilestarikan lintas generasi.
“Kegiatan ini luar biasa. Saya sangat mengapresiasi inisiatif Polri yang rutin menggelar pagelaran wayang saat Hari Bhayangkara. Tahun ini mengusung tema ‘Amartha Binangun’, yang sangat kontekstual dalam membangun nilai-nilai kebersamaan dan ketahanan sosial,” ungkap Fadli Zon.
Lebih lanjut, ia mendorong agar institusi-institusi lain juga meneladani langkah Polri, dengan mengintegrasikan unsur budaya ke dalam kegiatan kelembagaan, terutama dalam momen-momen bersejarah. Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab kementerian, tetapi juga seluruh elemen bangsa.
“Semoga ke depan semakin banyak lembaga negara maupun swasta yang menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari ekspresi perayaan dan dedikasi kepada masyarakat,” tambahnya.
Fadli Zon juga menekankan bahwa wayang kulit bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan juga telah diakui dunia sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO sejak tahun 2003. Ia menyebut wayang sebagai representasi kekayaan intelektual dan nilai moral masyarakat Nusantara.
“Wayang adalah masterpiece dari tradisi lisan dan warisan budaya tak benda umat manusia. Ini adalah pengakuan internasional yang seharusnya makin memotivasi kita untuk terus menjaga dan merawatnya,” tegas Fadli.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tidak semua jenis wayang berada dalam kondisi yang aman. Wayang golek, misalnya, membutuhkan perhatian lebih karena jumlah pementasannya yang semakin sedikit dibandingkan dengan wayang kulit yang masih relatif kuat komunitasnya di sejumlah daerah.
Pagelaran wayang pada peringatan Hari Bhayangkara ini juga menjadi simbol sinergi antara sektor keamanan dan kebudayaan dalam memperkuat jati diri bangsa. Dengan menyentuh ranah seni tradisional, Polri menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya terbatas pada penegakan hukum, tetapi juga mencakup upaya pelestarian budaya.
“Melalui kesenian, kita merawat akar dan jati diri bangsa. Saya berharap ini bisa menjadi teladan bagi semua pihak,” tutup Fadli Zon.




Tinggalkan Balasan